Ketika mendengar kata “Casino“, bayangan majority orang langsung tertuju pada gedung megah berlampu neon di Las Vegas, deruan suara mesin slot, meja roulette yang berputar, dan tumpukan chip poker. Namun, di balik gemerlap industri bernilai miliaran dolar ini, tersimpan sejarah panjang yang tak banyak diketahui orang.
Bagaimana sebuah tempat perjudian bisa berevolusi dari tempat berkumpulnya bangsawan hingga menjadi fenomena global? Dan bagaimana ceritanya hingga akhirnya jejak ini sampai ke Indonesia?
Asal Usul Kata “Casino”: Bukan Sekadar Tempat Judi
Menariknya, kata “Casino” berasal dari bahasa Italia, yakni Casa yang berarti “Rumah”. Pada abad pertengahan, istilah Casino merujuk pada sebuah paviliun kecil atau vila pedesaan yang digunakan untuk bersantai, mengadakan pesta dansa, mendengarkan musik, atau sekadar menikmati seni.
Ya, pada awalnya, casino sama sekali tidak identik dengan judi. Baru pada abad ke-19, maknanya bergeser menjadi bangunan publik yang menyelenggarakan berbagai macam hiburan, termasuk di dalamnya adalah kegiatan bertaruh uang.
Kelahiran Casino Resmi Pertama di Dunia
Meski perjudian sudah ada sejak zaman kuno (Mesir Kuno, Yunani, hingga Kekaisaran Romawi yang suka bertaruh pada pertarungan gladiator), tempat perjudian yang dikelola secara resmi oleh pemerintah baru lahir di Italia.
Pada tahun 1638, Pemerintah Venesia membuka Ridotto. Tempat ini awalnya didirikan untuk mengontrol perjudian liar yang marak saat musim karnaval. Di Ridotto, bangsawan dan turis kaya raya bisa bermain Basetta (permainan kartu mirip poker) dan taruhan dadu. Namun, bagi masyarakat kelas bawah, Ridotto terlalu mahal untuk dimasuki. Ini menandai bahwa casino pada masa itu benar-benar merupakan tempat eksklusif bagi elit.
Merambah ke Eropa dan “Meledak” di Amerika
Konsep Ridotto menyebar ke seluruh Eropa. Pada abad ke-19, kota-kota seperti Baden-Baden (Jerman) dan Monte Carlo (Monako) menjelma menjadi surga bagi para penjudi kelas atas. Kasino di Monte Carlo, yang dibangun oleh François Blanc, begitu terkenal hingga menjadi setting utama dalam novel Casino Royale karya Ian Fleming.
Puncak transformasi casino terjadi ketika melintasi Samudra Atlantik ke Amerika Serikat. Pada awal 1900-an, perjudian dilegalkan di negara bagian Nevada, khususnya di gurun pasir yang gersang bernama Las Vegas. Pada era 1940-an, raksasa bisnis seperti Bugsy Siegel membangun hotel dan casino megah pertama, Flamingo. Dari sinilah Las Vegas bermetamorfosis menjadi “Ibukota Casino Dunia” yang menawarkan bukan hanya judi, tapi juga pertunjukan magis, konser musik, dan hiburan kelas dunia.
Babak Indonesia: Dari Era Kolonial hingga “Zamrud Khatulistiwa” yang Kontroversial
Lalu, bagaimana cerita casino sampai ke Indonesia? Jejak perjudian di Nusantara sejatinya sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Para tuan tanah dan pedagang Eropa kerap menghabiskan malam mereka di berbagai klub eksklusif di Batavia (Jakarta) yang menyediakan permainan kartu dan rolet.
Namun, babak paling bersejarah dan kontroversial dari casino di Indonesia terjadi pada era tahun 1960an hingga akhir 1970an, tepatnya di masa Orde Baru.
1. Proyek Lokakarya dan Casino Terapung
Pada masa awal pemerintahan Presiden Soekarno, Indonesia kekurangan devisa alias uang dolar dari luar negeri. Untuk mencari dana segar, pemerintah memberikan izin kepada sebuah badan usaha milik negara (yang kala itu dipegang oleh perusahaan bernama Lokakarya) untuk membuka tempat hiburan yang sah, termasuk perjudian, yang khusus ditujukan untuk turis asing (WNA).
Karena ada larangan keras untuk warga negara Indonesia (WNI) berjudi, maka dibangunlah sebuah casino yang sangat unik: Casino Terapung di Teluk Jakarta (Tanjung Priok). Kapal pesiar Ocean Grand diubah menjadi casino mewah yang berlayar ke wilayah internasional agar tidak melanggar hukum Indonesia. Di sini, turis asing dan pejabat tinggi bisa bermain roulette dan blackjack dengan bebas.
2. Era Keemasan di Bawah Payung “Wisata”
Memasuki era Soeharto (Orde Baru), proyek ini semakin menggurita. Untuk mendongkrak pariwisata, pemerintah membuka beberapa area casino legal lagi di beberapa titik strategis, dengan dalih untuk menarik turis dari Asia (terutama yang datang dari Singapura dan Malaysia). Beberapa yang legendaris antara lain:
- Casino di Tanjung Benoa, Bali: Menjadi pusat hiburan malam para turis asing yang liburan ke pulau dewata.
- Casino di Polonia, Medan: Beroperasi secara sembunyi-sembunyi di balik hotel mewah, melayani pebisnis dan turis.
- Kompleks Genting Highlands (Malaysia) Connection: Banyak investor Indonesia yang terlibat dalam pengembangan casino di perbatasan Malaysia tersebut untuk menampung “tamu” dari Indonesia.
3. Akhir dari Sebuah Era
Pada akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an, tekanan dari berbagai elemen masyarakat, organisasi keagamaan, dan citra buruk di mata internasional membuat pemerintah Orde Baru mengambil sikap tegas.
Melalui Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 1981, Presiden Soeharto secara resmi melarang segala bentuk perjudian di seluruh wilayah Indonesia. Casino Terapung Tanjung Priok ditutup, mesin-mesin slot di Bali dibongkar, dan era keemasan casino fisik di Indonesia resmi ditutup selamanya.
Evolusi Modern: Casino Cyberspace
Kini, di abad ke-21, meski tidak ada lagi gedung megah berlampu neon yang berdiri legally di tanah Indonesia, hasrat manusia akan permainan kasino tidak pernah benar-benar padam. Era digital telah melahirkan Casino Online.
Melalui layar smartphone, masyarakat Indonesia kini bisa mengakses ribuan meja Live Casino yang disiarkan langsung dari studio-studio mewah di luar negeri (Kamboja, Filipina, Malta). Teknologi telah membuat sejarah casino berputar 360 derajat—dari vila kecil bangsawan Italia, ke gurun Las Vegas, ke kapal terapung Jakarta, dan kini, masuk ke dalam saku setiap warganya.
